Wednesday, February 8, 2017

DATARAN CINTA SAMUDRA ILMU (6)


DATARAN CINTA SAMUDRA ILMU
KARYA : PARABI SATRIA



Assalamualaikum....!
Ku angkat pena ini dengan gagah perkasa untuk memerangi pemikiran mereka yang menyoyak jantung (Aqidah) Negeriku (Indonesia). dan mengajak kembali Saudara-Saudariku kembali kejalan yang lurus. 
Catatan :
Cerita ini adalah gabungan dari beberapa kisah nyata dan fiksi yang ada di jaman modren ini. adapun bila ada kesamaan tokoh, tempat, serta keaadan yang tidak berkenan kami memohon maaf dengan sebesar-besarnya. Bermula dari Allah kembali kepada Allah ....!

Selamat membaca ....!

ENAM GADIS ITU BERNAMA ASMAUL HUSNA

          Suara adzan subuh pertama menyambut terbitnya pajar dengan begitu merdu, saling bersahut-sahutan memenuhi seluruh penjuru Kota Langsa. Abi terbangun dari tidurnya yang begitu nyenyak sambil membaca do’a, setelah itu Abi membersihkan tempat tidurnya, lalu bergegas kekamar mandi dengan membawa handuk dipundaknya. 
“Sudah bangun Abi” tanya Dzikran tiba-tiba dari meja belajar
“Eh, sudah bang, wah abang selalu yang lebih cepat bangun diantara yang lain” ujar Abi pada Dzikran
“Tak perlu memuji, sudah sana mandi biar abang yang bangunkan yang lain, kita shalat berjama’ah sama-sama dimenasah” ujar Dzikran tersenyum
“Oke....” ujar Abi lalu bergegas kekamar mandi
          Semua penghuni rumah sewa itu terbangun dari tidurnya, membersihkan diri secara bergantian, lalu bersiap-siap menuju menasah untuk mendirikan shalat subuh secara berjamaah.
          Shalat didirikan dengan begitu khusuk dengan di imami oleh seorang bapak-bapak dengan bacaan Qur’annya yang merdu, setelah shalat berdzikir, berdo’a, kemudian bersalawat Rasulullah SAW. Semua jamaah keluar dari menasah dengan cahaya iman diraut wajahnya. Itulah nikmat yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang selalu mendirikan shalat subuh secara berjamaah, terutama untuk kaum laki-laki, sedangkan wanita lebih utama dirumahnya.
          Waktu terus berjalan, mentari terbit dari ufuk timur dengan keindahan cahayanya, perlahan mentaripun naik keperadapannya dengan gagah perkasa.
“Rizal aku kekampus dulu ya” ujar Abi pada Rizal yang satu-satunya hari ini kuliah di jam siang sementara yang lain telah pergi kekampus sejak tadi.  
“Oke, hati-hati dijalan” ujar Rizal dengan tersenyum
“Assalamu’alaikum” ujar Abi keluar dari pintu
“Walai’kum salam” jawab Rizal dari dalam rumah
          Abi melangkahkan kakinya menyusuri jalan aspal, tak lama tibalah ia dipintu gerbang Universitas Samudra. Seorang Satpam menyapanya dengan senyuman. Dan Abi membalasnya dengan senyuman sambil menundukkan kepala. Beberapa langkah dari pintu gerbang terlihatlah Gedung Biro Akademik yang menyatu dengan Fakultas Hukum dan Fakultas FKIP dengan gaya bangunnya klasik dan modern.
          Abi berbelok kekanan menuju Fakultas Teknik dengan langkahnya yang selalu berwibawa. Terlihat Gedung Fakultas Fkip PGSD dengan gaya bangunannya yang sederhana. Abi terus melangkahkan kakinya dan akhirnya tibalah ia di Gedung Fakultas Teknik dengan gaya bangunannya yang Klasik bercampur Modern, dikelingi pepohonan, dan salah satu pohon itu tertulis sebuah selogan “Jika Kalian Teknik Maka Kita Adalah Saudara”.
          Sudah menjadi kebiasaan Abi setiap hari, melihat bangunan-bangunan, gedung-gedung, jembatan, jalan, saluran air, bendungan, bandara, stadiun, dan bangunan-bangunan lainnya untuk melatih imajinasinya sebagai seorang Civil Engginer / Drafter Arsitektur. Terkadang kebiasaan itu sering dikomentari teman-temannya.
“Bi kau ini bagaimana, bukannya melihat cewek-cewek yang cantik lewat malah memperhatikan gedung-gedung itu” komentar teman-temannya tampa dosa dan Abi selalu menjawab komentar itu dengan senyuman.
          Abi melangkahkan kakinya memasuki teras gedung Fakultas Teknik yang dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswi teknik, ada yang sedang duduk didepan gedung, ditangga, diparkiran, dikantin dan diruangan sedang mengikuti kuliah bersama dosen. Ada yang sedang berdiri didepan ruangan dosen, dekan, akademik, dan ruangan kepala  jurusan, serta ada yang berdiri didepan mading melihat-lihat imformasi.
          Sebelum memasuki gedung Fakultas Teknik terlebih dahulu Abi melakukan kebiasaan Mahasiswa Teknik, yaitu bersalam-salaman dengan mahasiswa lainnya, saling menyapa dan bertanya kabar.
“Abi....” teriak seorang perempuan dari belakang yang merupakan teman sekelas Abi
“Eh, Kiara....! ada apa” tanya Abi setelah berbalik
“Sama-sama kekelasnya” ujar Kiara tersenyum
“Em....!” ujar Abi berpikir sebentar sambil melihat sekelilinnya, matanya tertuju pada seorang pemuda yang baru tiba di Fakultas Teknik “Dani....” seru Abi pada pemuda itu memanggilnya denga sopan.
“Ada apa Abi....” tanya pemuda itu sambil bersalaman dengan Abi
“Ayo kita bertiga sama-sama kekelas” tawar Abi pada Dani
“Ayo....” jawab Dani semangat, terlihat Kiara wajahnya sedikit cemberut dengan kedatangan Dani
          Kuliahpun dimulai dengan mata kuliah  “Menggambar Struktur Gedung” , semua teman-taman Abi yang terdiri dari 15 wanita, dan 30 laki-laki telah menempati kursinya masing-masing. Seorang Dosen wanita dengan jilbab syar’i nya memulai pelajarannya dengan senyuman yang ramah.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu” ujar sang dosen tersenyum
“Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatu” jawab semua mahasiswa dengan serentak
“Minggu lalu, kita telah membagi kelompok menjadi tiga, dimana kelompok pertama mengambar gedung sekolah dua lantai, kelompok dua memngambar gedung perkantoran dua lantai, dan kelompok ketiga menggambar gedung pukesmas dua lantai” ujar sang dosen dengan senyuman sambil menuliskan poin-poin tiap kelompok di papan tulis.
“Adapun yang wajib digambar oleh setiap kelompok adalah, Denah, Tampak Depan, Tampak Belakang, Tampak Samping Kanan dan Kiri, Potongan A dan B, Denah Rencana Atap, dan yang terakhir Gambar Presfektif” ujar sang dosen menjelaskan sambil menulis poin-poin yang digambar oleh mahasiswa
“Bu, untuk gambar Presfektifnya  apakah menggunakan cara titik hilang ” tanya Abi sambil setelah menganggkat tangan terlebih dahulu
“Iya gambar presfektifnya menggunakan cara titik hilang, dimana titik hilang ini ada tiga yaitu, satu titik hilang, dua titik hilang, dan tiga titik hilang, adapun cara yang akan kita gunakan adalah cara dua titik hilang, tetapi kalian boleh menggunakan cara tiga titik hilang bila mampu” ujar sang Dosen menjawab pertanyaan Abi
“Bu, setelah digambar dikertas A3, apa gambarnya dipindahkan ke kertas Kalkir lagi menggunakan Rapido atau Drawing Pen” tanya seorang mahasisiwi setelah mengangkat tangan
“Tentu saja, tetapi kalian baru bisa memindahkan gambarnya ke kertas Kalkir setelah gambar dikertas A3 kalian di Acc (distujui), adapun untuk penggunaan Rapido dan Drawing Pen, ibu memberi keringanan untuk menggunakan Drawing Pen saja, sebab Harga Rapido sangatlah mahal dan belum ada dijual di Kota Langsa tetapi bila kalian mempunyai Rapido kalian boleh memindahkan gambarnya dengan itu” jawab Dosen sambil tersenyum
“Bu, apakah tugas ini dikerjakan dalam satu Semester” tanya seorang mahasiswa didepan Abi
“Benar, tugas ini adalah tugas besar dan dikerjakan dalam satu semester, tetapi untuk Acc nya harus setiap minggu, minsalnya minggu ini kalian Acc kepembimbing masing-masing kelompok gambar Denah, minggu selanjutnya Gambar Tampak dan seterusnya hingga selesai, ada pertanyaan lagi” jawab sang dosen menjelaskan sambil bertanya
“Tidak bu....” jawab semua mahasiswa dengan serentak
“Kalau begitu, setiap kelompok ibu minta untuk menemui dosen pembimbing tugas ini, yang sudah tertulis didalam kertas yang dibagikan komisaris, untuk mengatur jadwal pertemuan setiap minggunya, mengerti” ujar Ibu dosen tersenyum
“Mengerti....” jawab semua mahasisswa dikelas itu dengan serentak
“Baiklah kalau begitu, kelas saya ahiri, assalamu’alaikum warahmatullahi, wabarakatu....!” ujar sang dosen dengan senyum ramahnya
“Walaikum salam warahmatullahi wabarakatu” jawab semua masisswa serentak
          Setelah dosen keluar kelas, semua mahasiswa-dan mahasiswi juga keluar dari kelas bersama-sama.
“Mampus kita Bi, tugasnya banyak kali, belum lagi dipindahin ke kertas kalkir, dan prespektifnya lagi, tugas oh tugas” ujar Dani mengeluh
“Kerjain aja pelan-pelan,  rutin dan tidak memaksa diri insyaallah pasti siap”  ujar Abi memberi semangat
“Kamu enak, tamatan SMK Teknik Gambar Bangunan, yang pastinya mengambar seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari kalian, nah kami yang tamatan SMA mana tau apa-apa” ujar Dani mengeluh lagi dengan ocehannya
“Begini saja, dikelompok kita kan ada beberapa orang yang tamatan SMK jurusan Teknik Gambar bangunan, kita kan ngerjain tugasnya secara berkelompok, disitu nanti kita akan berbagi ilmu dan pengalaman” ujar Abi mencoba memberi semnagat dengan idenya
“Nah itu baru cocok Bi, saling membantu sebagai mahasisswa teknik yang hidup dalam kekompakan dan tidak bisa berdiri sendiri” ujar Dani tiba-tiba bersemangat
“Iya-iya” ujar Abi tersenyum
          Semua mahasiswa menuruni tangga menuju lantai satu, menemui dosen pembimbing diwakili oleh setiap kelompok masing-masing. Dimana kebetulan ketua kelompok satu adalah Abi sendiri. Dengan langkah yang sopan Abi menuju ruang Dosen Teknik Sipil, mengetuk pintu secara perlahan, kemudian memberi salam.
          Abi dipersilahkan masuk dan duduk tepat berhadapan dengan dosen yang sangat berwibawa, dan tegas. Membuat nyali Abi sedikit menciut, tetapi sebagai ketua kelompok yang dipercaya teman-temannya ia harus menyampaikan amanah teman-temannya.
“Ada yang bisa saya bantu” ujar sang Dosen dengan sedikit bercanda, menyadarkan lamunan Abi.
“Em.... sebelumnnya perkenalkan nama saya Muhammad Ambiya, saya diminta ibu Cut Mutia untuk menemui bapak sebagai pembimbing kami kelompok 1 untuk tugas Menggambar Struktur Gedung” ujar Abi mantap dan sopan
“Lalu....?” ujar sang dosen singkat
“Begini pak, dalam tugas ini akan diadakan pertemuan setiap minggunya dengan pembimbing, untuk memeriksa gambar-gambar yang telah kami buat, jadi untuk itu tujuan saya kesini untuk bertanya kepada bapak, kapan kira-kira waktu pertemuan setiap minggunya, dimana tempat pertemuannya,  apa-apa saja yang harus kami siapkan, serta bagaimana nanti metode penilainnya” ujar Abi menjelaskan dengan panjang lebar.
“Oh itu, bisa kamu kumpulkan teman-teman kelompokmu cari ruangan yang kosong, disitu nanti kita bicarakan kapan jadwal dan tempat pertemuannya, apa-apa yang perlu kalian siapakan, serta metode penilainnya” ujar sang dosen tersenyum
“Insyaallah bisa pak” jawab Abi mantab sambil tersenyum menunduk sopan
“Baiklah, 5 menit lagi panggil saya kesini setelah semua anggota kelompokmu duduk rapi dalam ruangan” ujar sang Dosen dengan tegas
“Siap....! terima kasih pak” ujar Abi tersenyum sambil mencium hormat tangan dosennya.
“Iya sama-sama....!” jawab Dosen tersenyum bangga
          Abi keluar dari ruangan dosen Teknik Sipil dengan tersenyum menuju kelompoknya yang menunggunya diteras Fakultas Teknik.
“Gimana bi....!” tanya beberapa anggota kelompoknya serentak
“Kita semua disuruh mencari ruangan kosong, duduk dengan rapi, diruangan itu nantilah bapak itu menjelaskan waktu pertemuan, tempat, apa-apa yang harus kita siapkan, dan metode penilaannya” ujar Abi dengan mantap kepada teman-temannya
“Oh ya sudah ayo segera kita cari ruangan kosong” ujar salah satu temannya dengan semangat.
“Ayo....!” ujar semua serentak, mencari ruangan kosong
          Tak berapa setelah itu semua anggota kelompok Abi telah duduk rapi diruangan, menunggu dosen pembimbing yang tengah dipanggil Abi. Akhirnya sang Dosen memasuki ruangan dengan disusul Abi dibelakangnnya. Setelah perkenalan sebentar sang dosen menjelaskan waktu dan tempat pertemuan, dan apa-apa yang harus disiapkan serta metode penialainnya. Sesekali sang dosen bergurau demi mencairkan suasana, agar tidak terlalu tegang.
          Tak lama setelahnya konsultasi dengan pemimbing selesai, sang dosen kembali keruangannya dengan langkahnya yang berwibawa, disusul semua anggota kelompok Abi dan Abi sendiri.
“Setelah ini kita masuk Kalkulus I kan” ujar seorang gadis salah satu teman sekelas Abi
“Iya, lima menit lagi” ujar gadis yang satunya lagi
“Kelompok yang lain diamana ya” tanya gadis yang satunya lagi
“Mereka sudah diatas” ujar gadis yang pertama
“Dari mana kamu tau” tanya gadis yang kedua
“Dari sini” ujar gadis yang pertama sambil menunjukkan hpnya dalan aplikasi BBM
“Oh, kita susul yuk” ujar gadis yang kedua
“yuk....” jawab mereka serentak kecuali Abi yang berdiri paling belakang
          Mereka menaiki tangga menuju lantai dua, hingga bertemulah mereka dengan kelompok lain. Yang laki-laki berbaur dengan laki-laki, yang perempuan berbaur dengan yang perempuan. Ada yang bercerita, bercanda, ada yang asik melihat hp dan lain-lain. Namun tak lama setelahnya dengan kompak mereka menuju ruangan kelas untuk mengikuti pelajaran Kalkulus I.
          Pelajaran Kalkulus I dimulai dengan seorang dosen laki-laki menuliskan sebuah judul dipapan tulis “Integral” setelah menulis judul sang dosen membuka dengan salam kemudian kembali menuliskan rumus rumus integral dipapan tulis sambil menjelaskan. Semua rumus, angka dan huruf-huruf yang ditulis dipapan tulis membuat kebanyakan mahasiswa dan mahasiswi geleng-geleng kepala.
          Dua jam setengah setelahnnya dosen keluar dari dari ruangan disusul mahasiswa dan mahasiswi dengan raut berbagai macam raut muka, yang tidak enak dilihat.
“Kau ngerti gak apa yang diajarkan bapak tadi Bi” tanya Dani temannya Abi
“Alhamdulillah sedikit” jawab Abi tersenyum
“Mending sedikit, aku malah belum mengerti sama sekali” ujar Tadi mengeluh
“Biasa tu, namanya juga matematika, dibutuhkan latihan yang berulang-ulang agar kita mengerti” ujar Abi dengan mantab
“Yang ada tambah pening Bi, buka tambah mengerti” ujar Dani mengeluh lagi
“Dicoba dulu Dani, jangan cepat menyerah” ujar Abi memberi semangat
“Iya deh....!” ujar Dani memelas “Kekantin lagi yuk, gue lapar ni” sambung Dani tiba-tiba semangat.
“Bentar lagi, yang wajib dulu baru yang mubah” ujar Abi sambil keduanya mulai menuruni tangga.
“Maksudnya apa , yang wajib dulu baru yang mubah...!”  tanya Dani heran
“Maksudnya Shalat Dzuhur dulu baru makan siang” ujar Abi menjelaskan .
“Benar tu Bi, shalat dulu baru makan” ujar Alfi tiba-tiba dari belakang “Yuk kita shalat di mushala Teknik” sambung Alfi merangkul Abi dan Dani
“Tunggu....” seru Abi berbalik melihat semua teman sekelasnya yang juga sedang menuruni tangga “Teman-teman kita shalat Dzuhur dulu yuk, kita ramaikan mushola Teknik” ujar Abi pada teman-temannya yang lain
“Ayo.....!” jawab semuanya serentak
          Dengan kompak semuanya menuju ke Mushola, ada yang kekamar kecil terlebih dahulu, dan ada yang mengambil wudhu dengan begitu khusuk. Setelah itu mereka semua mengatur shap sholat dengan rapi. Shalat jamaah Dzuhurpun didirikan dengan diimani oleh seorang dosen dari Teknik Mesin.
          Mentari telah condong keufuk barat, menyambut malam kedalam pelukannya bersamaan dengan terdengarnya panggilan-panggilan shalat magrib, diberbagai penjuru daerah syariat islam yaitu Aceh, khususnya Kota Langsa. Abi dan teman-teman kosnya tengah asik mengambil wudhu disalah satu menasah dekat rumah sewanya.
          Setelah mengambil whudu mereka mendirikan shalat bersama penduduk-penduduk sekitar dengan diimami oleh seorang Ustad dengan bacaan Al-Qur’annya yang begitu merdu, dan fasih. Seperti sedang mendengarkan bacaaan Al-Qur’an imam-imam shalat Arab Saudi.
          Setelah shalat, do’a, dzikir, dan salawat kepada Rasulullah SAW. Abi mendirikan shalat sunah. Setelahnnya Abi dan teman-temannya keluar dari menasah dengan wajah yang berseri-seri oleh kesejukan air wudhu.
“Abi....” seru seseorang dari belakang ketika Abi sedang mengenakan sandalnya
“Maaf bapak memanggil saya” tanya Abi memastikan bahwa orang yang dibelakannya memanggil namanya.
“Iya, kamu Abi kan” ujar bapak itu lagi, yang ternyata adalah imam shalat tadi
“Iya saya Abi, maaf bapak ini siapa ya” tanya Abi sedikit heran
“Masih ingat dengan seorang bapak-bapak yang memujimu disalah satu warung makan Kabupaten Biruen” jawab bapak itu memberi klu
“Di Kabupaten Biruen....?” tanya Abi heran sambil mengerutkan kening “Masyaallah bapak ini pak Ahmad yang waktu itu kan” ujar Abi terkejut setelah menyadari orang yang didepannya.
“Iya saya pak Ahmad, yang itu” ujar bapak itu tersenyum tulus
“Masyallah, apa kabarnya pak” tanya Abi sambil menyalami tangan pak Ahmad
“Allamdulillah baik nak, kabarmu gimana” ujar pak Ahmad baik bertanya
“Alhamdulillah, luar biasa, Allahu’akbar pak” jawab Abi tersenyum
“Alhamdulillah, nak Abi kos disekitar sini” tanya Pakk Ahmad pada Abi
“Iya pak” jawab Abi singkat
“em kapan-kapan main kerumah, ajak teman-temannya sekalian, rumah bapak pas disimpang jalan masuk lorong ini, yang warna biru” ujar Pak Ahmad tersenyum ramah
“Insyaallah pak, oya kenalkan ini teman-teman saya” ujar Abi mengenalkan teman-temannya.
          Semua teman-teman Abi menyalami tangan pak Ahmad dengan ramah sambil memperkenalkan diri. Rasa kekeluargaan terjalin indah begitu saja. Tak lama setelah itu mereka kembali ke kos bersama dengan Pak Ahmad yang kebetulan searah.
          Malam telah datang, tampa bintang dan rembulan sebab tertutupi awan tebal, Abi tengah terduduk dimeja belajarnya sambil membaca sebuah buku. Hp Abi berdering sebagai tanda pesan masuk dari aplikasi BBM Smart Phonenya.
“Assalamualaikum cinta” from Aya
“Walaikumsalam rindu” balas Abi sambil tersenyum
“Malam tak menampakkan bulan dan bintangnya, bagaimana kutau kabar cintaku disana, sementara awan menutupinya”  ujar Aya dalam pesannya
“Meski awan menutupi terangnya, cahayanya tetap akan sampai pada hati yang merindu, lalu anginpun berbisik ‘cintamu baik-baik saja’” jawab Abi tersenyum
“Syukur alhamdulillah, ‘angin sampaikan juga kepadanya, rindunya juga baik-baik saja’” balas Aya tesenyum bahagia
“Hey tangan yang lembut, sudahkan kau suapkan segenggam demi segenggam nasi kemulutnya, agar terjaga kesehatannya” balas Abi dengan syairnya lagi
“Entah kenapa tangan ini menjadi letih, jangankan menganggkat segenggam nasi, sebutir saja tak bisa” Jawab Aya penuh kerinduan
“Tangan, jika sebutir tak bisa, maka setengah demi setengah, jika setengah tak bisa maka seperempat demi seperempat, hingga seterusnya, asalkan ia tak sakit dan terjaga kesehatannya” jawab Abi Mesra
“Cintaku sungguh perhatian, baiklah kan kucoba tangan ini menyuapkan segenggam demi segenggam, setengah demi setengah, dan seperempat demi seperempat, agar terjaga kesehatanku dalam menjaga ketulusanmu” jawab Aya tersenyum.
“Makanlah yang banyak, dan jangan lupa berdo’a” balas Abi tersenyum pula
“Iya-iya bawel.....!” balas Aya
“Ehm2.... kok senyum-senyum sendiri” ujar Dzikran yang tiba-tiba yang entah sejak kapan sudah ada didekat meja Abi sambil membawa buku tebal.
“Eh Bang Dzikran..... tidak ada Bang”  ujar Abi berbohong
“Pasti sedang BBM an dengan pacarmu ya, makanya senyum-senyum sendiri” selidik Dzikran tersenyum simpul
“Hehe..... iya bang” jawab Abi malu
“Hem.... coba kamu baca buku ini” ujar Dzikran menyodorkan sebuah buku
“Mahabbah.... ” ujar Abi denga heran terhadap judul buku yang dibacanya “Apa itu Mahabbah bang” tanya Abi penasaran
“Bacalah dulu, nanti kamu juga akan tau apa itu Mahabbah, buku itu berisi kumpulan karangan dari para Sufi (Ahli Tasawuf) tentang Mahabbah” ujar Dzirkan semakin membuat Abi penasaran.
“Insyaallah akan saya baca nanti Bang, sekarang saya mau ngerjain tugas gambar dulu” ujar Abi tersenyum
“Oh itu lebih baik, sebagai Mahasiswa tugas kampus harus diutamakan” Ujar Dzikran tersenyum pula
“Sip....!” jawab Abi sambil mengajungkan jempol
          Akhirnya keduanya asik berlajar dalam salah satu kamar rumah sewa tersebut. Dzikran yang asik menelaah buku-buku Tafsir Al-Qur’an dan Hadist, sedangkan Abi asik membuat gambar gedung sekolah secara manual.
          Dalam lembaran kertas A3, Abi mulai menarik pensil mekaniknya pada sepasang rol segitiga. Mulai dari membuat garis pinggir yang tebal, kemudian membuat garis tengah dan garis bantu. Abi hendak mengambar denah sebuah gedung sekolah bertingkat dua dengan ukuran 10 X 30 meter dengan skala 1 : 100.
          Pertama, Abi membuat garis As (Tengah), kemudian membuat kolom satu-persatu. Membuat garis dinding ruangan-ruangan, membuat pintu dan jendela, membuat keterangan dan simbol, terakhir melengkapi gambar denahnya dan memperindah gambarnya.
“Subhanallah gambar denah yang kamu buat bagus sekali” ujar Dzikran memuji
“Alhamdulillah bang, ini hanya gambar dari seseorang yang baru belajar” jawab Abi merendah
“Merendah ni ceritanya” ujar Dzikran bercanda “Ya sudah lanjutkan” ujar Dzikran tersenyum. Dibalas dengan senyuman juga oleh Abi.
          Abi melanjutkan gambarnya dari Denah Bangunan ke Denah Rencana Atap, dengan skala yang sama, alat yang sama dalam kertas A3 lainnya. Abi kembali fokus pada tugasnya, begitupun Dzikran kembali fokus pada bacaannya.
          Tiga jam setelahnya gambar Abi selesai hingga ke Tampak Depan, Samping Kanan, Kiri dan Belakang gedung sekolah tersebut. Abi mendesain gambar gedungnya dengan mencampurkan gaya modern dan klasik, membuat Dzikran geleng-geleng tak percaya melihat keindahan hasil karya Abi tersebut.
“Kau ini seorang Civil Engginer atau Arsitek Abi, biasanya gedung seindah ini hanya bisa dibuat oleh orang-orang Arsiteklah kalau Civil Engginer setahu abang lebih keperhitungan, dan lapangan” ujar Dzikran tak percaya melihat gambar Desaint Abi.
“Ah biasa aja bang, Abi mesti banyak belajar lagi” ujar Abi berhenti sebentar “Dasarnya dari SMK nya Abi lebih ke Arsitektur si, namun Allah menakdirkan Abi di Sipil, mungkin Allah bermaksud agar Abi tidak hanya bisa mengambbar gedung dan bangunan, tetapi juga harus bisa menghitung biaya perencanaannya, juga mengetahui kondisi-kondisi lapangannya, sebab Ilmu Sipil itu kan lebih luas dari pada Arsitektur, dan ilmu Arsitektur itu sendiri berasal dari Ilmu Sipil” ujar Abi mantab
“Ya, abang mengerti sekarang bahwa seorang Muhammad Ambiya adalah orang yang penuh ambisi akan ilmu pengetahuan dan teknologi, makanya terkadang abang heran anak yang diam dan sedikit cuek seperti kamu kok bisa melakukan banyak hal, seperti olahraga, matematika, pelajaran umum, agama, filosofi, sastra, multimedia, mengambar dan lain-lain” ujar Dzikran dengan runtut
“Ada juga kok yang Abi yang gak bisa bang, seperti musik dan kesenian” ujar Abi ingin merendah
“Meski tak bisa bermain musik dan kesenian, kamu memiliki suara yang merdu, yang mungkin jika kau kembangkan bisa menjadi seorang musisi” ujar Dzikran lagi.
“Wah kalau menyanyi enggak deh bang” ujar Abi tidak setuju
“Kenapa....?” tanya Dzikran pura-pura heran
“Abi kurang suka musik, Abi lebih suka mendengarkan salawat dan lantunan Ayat Suci Al-Qur’an”  jawab Abi mantab
“Wah kok sama, ngomong-ngomong Qori idola kamu siapa” tanya Dzikran dengan menyelidik
“Muammar Za bang, kalau abang” jawab Abi tersenyum
“Kalau abang Misyary Rasyid” jawab Dzikran dengan bangga
“Misyary Rasyid, itu juga salah satu idola saya bang” ujar Abi ikut-ikutan
“Ya...ya..... bicara tentang Qori, lagu-lagu Tilawatil Qur’an yang sudah kamu kuasai apa saja” tanya Dzikran penasaran
“Alhamdulillah baru empat bang, Bayati, Shoba, Sika dan Jiharkah” jawab Abi sambil mengingat-ingat.
“Subhanallah, abang aja bisanya cuma lagu Bayati, benar-benar multitalenta ni anak” ujar Dzikran bangga
“Lebih hebat Abang lah, sudah hafal 27 jus Al-qur’an, dan beberapa Hadist-Hadist dari 7 perawi hadist yang shohih” ujar Abi balik memuji
“Semuanya karena Izin Allah Bi, Allah anugrahkan Akal kepada kita manusia sehingga kita bisa memilih dan menggali kemampuan dibidang masing, tujuannya agar kemampuan-kemampuan yang berbeda itu disatukan sehingga terbentuklah tatanan dunia yang indah dan penuh kedamaian” ujar Dzikran dengan mantap
“Iya bang.....” ujar Abi menyetujui “ngomong-ngomong udah jam 12 malam pas ni bang kita istirahat yuk” ujar Abi sambil melirik jam didinding
“Kamu benar, kita tidur sebentar barang dua jam lebih, sehabis itu shalat tahajud” ujar Dzikran tersenyum
“Kalau Abi lupa, tolong dibangunin ya Bang” ujar Abi beranjak dari meja belajarnya menuju kekamar mandi sebentar, disusul Dzikran dibelakangnya.
“Ok mas bro” jawab Dzikran sedikit bercanda, membuat Abi tertawa pelan
          Keduanya menutup mata setelah mengambil wudhu dan berdo’a. Mereka tertidur  ditempat tidur masing-masing yang sederhana  dengan bertumpu pada rusuk sebelah kanan dan telapak tangan yang berada dibawah pipi. Tertidur dengan senyuman, hingga sampai pada alam mimpi masing-masing.
          Dua hari telah berlalu, dan hari ini adalah hari minggu, semua teman kos Abi pulang kekampungnya masing-masing  ada juga yang ketempat saudara dan teman-temannya, tinggal ia sendiri yang berada dalam rumah sewa itu. Karena merasa suntuk Abi memutuskan untuk bersilaturahmi kerumah pak Ahmad yang ada tidak jauh dari persimpangan jalan.
          Abi melangkahkan kakinya, menuju rumah minimalis yang agak besar itu mengetuk pintunya sambil memberi salam.  
“Assalamu’alaikum....!” ujar Abi sambil mengetuk pintu
“Walaikumsalam” ujar suara lembut yang muncul dibalik pintu, dengan busana syar’i nya dan senyuman yang indah, membuat Abi terpana melihatnya.
“Maaf, abang ini siapa ya” tanya gadis itu dengan lembut, membuyarkan keterpanaan Abi.
“Astagfirullahaladzim” seru Abi dalam hati “Maaf, pak Ahmadnya ada” ujar Abi dengan sedikit malu.
“Ada, kalau boleh tau abang ini siapa?” tannya gadis itu lembut
“Saya Muhammad Ambiya (Abi)” ujar abi menperkenalkan dirinya
“Kalau begitu mohon tunggu sebentar, saya panggil Ayah kebelakang dulu” ujar Gadis itu tersenyum
“Oke, terima kasih” ujar Abi sambil tertunduk senyum
          Gadis itu menghilang dibalik pintu, sementara Abi berdiri diteras sambil memperhatikan ukiran-ukiran Adat Aceh yang ada didinding rumah tersebut. Tak lama pintu rumah itu terbuka kembali, muncullah sosok Pak Ahmad dengan senyuman diraut wajahnya.
“Eh, nak Abi rupanya ayo silahkan masuk” ujar Pak Ahmad tersenyum ramah
“Terima kasih pak” ujar Abi sedikit canggung untuk memasuki rumah yang bernuansa minimalis itu “Assalamu’alaikum” sambung Abi lagi ketika kakinya memasuki rumah itu, menuju ruang tamu.
“Walaikum’salam, silahkan duduk nak Abi, anggap saja seperti rumah sendiri” ujar Pak Ahmad lagi dengan keramah-tamahannya “Oya saya kebelakang sebentar ya nak Abi” ujar Pak ahmad kembali sambil menuju kebelakang.
          Abi duduk diruang tamu tersebut, sambil memperhatikan ruangan. Mulai dari lemari hias yang dipenuhi barang-barang antik. Kaligrafi-kaligrafi yang menempel didinding, kemudian foto-foto keluarga pak.
“ Astagfirullahaladzim” ujar Abi dalam hati, ia tiba-tiba teringat pada nasehat Lukmanul Hakim “Jagalah matamu ketika sedang bertamu kerumah saudaramu”.
“Maaf menunggu lama Abi” ujar Pak Ahmad muncul dari belakang, menyadarkan lamunan Abi, sambil membawa dua gelas minuman, kemudian meletakkannya di atas meja.
“Enggak usah repot-repot pak” ujar Abi basa-basi
“Tidak apa-apa nak, ayo silahkan diminum, itu Kopi Gayo buatan Langsa lo” tambah Pak Ahmad sambil bercanda.
“Terima kasih pak” ujar Abi malu, perlahan tangannya mengambil segelas kopi itu, membaca do’a, kemudian meminumnya dengan sopan.
“Gimana, enak tidak kopinya” tanya Pak Ahmad tersenyum
“Alhamdulillah, sangking enaknya saya jadi teringat kampung halaman pak” ujar Abi memuji sambil bercanda.
“Nak Abi bisa saja, itu yang buat putri sulung ana lo, itu dia yang dalam foto” ujar Pak Ahamad sambil menunjuk foto putrinya.
“Oh yang tadi pak” ujar sambil melihat foto itu sekilas kemudian kembali menatap Pak Ahmad dengan sopan.
“Iya, dia juga seorang Mahasiswa seperti nak Abi” ujar Pak Ahmad lagi
“Dimana pak....?” tanya Abi kaget dengan apa yang dia ucapkan
“Di, IAIN Zawiyah Cot Kala, sudah semester III” jawab Pak Ahmad “Oya kalau boleh bapak tau, di UNSAM nak Abi ambil jurusan apa” tambah pak Ahmad bertanya.
“Jurusan Teknik Sipil pak” jawab Abi tersenyum
          Keduanya terus mengobrol diruang tamu itu, hingga satu jam lamanya. Kemudian setelah itu Abi balik ke rumah sewanya setelah berpamitan pada pak Ahmad. Ditengah perjalananan tiga orang pemuda menatap Abi dengan pandangan yang tidak suka. Akan tetapi Abi menghiraukannya sambil terus berjalan menuju rumah sewanya.
          Hari ini hari kamis, semua teman-teman kos Abi telah pergi ke kampus. Abi sendiri di rumah sewanyasebab Abi hari ini masuk siang. Tiba-tiba handphone Abi berbunyi, dan dengan cepat Abi membukanya.
“Assalamu’alaikum Akhi....” Ujar seseorang diseberang telephone
“Walaikumsalam, ada apa akhi” tanya Abi balik
“Pagi ini, Akhi ada jam kosong tidak” tanyanya dengan ramah
“Kebetulan tidak ada Akhi” jawab Abi tersenyum
“Kalau begitu bisa temani ana untuk menghadiri undangan acara di IAIN Zawiyah Cot Kala tidak akh....!” tanya orang seberang lagi
“Insyaallah bisa akhi....” jawab Abi mantab
“Kalau begitu akhi siap-siap terus ya, biar sekalian perginya” ujar orang seberang lagi dengan semangat.
“Oke, akhi....!”
          Abi dan temannya memasuki pintu gerbang IAIN Zawiyah Cot Kala dengan sepeda motor temannya yang sederhana. Kemudian mereka menuju tempat parkir. Setelah itu mereka berdua berjalan menuju Aula IAIN Zawiyah Cot Kala. Sesampainya disana mereka disambut dan dipersilahkan duduk dibangku yang telah disediakan.
          Terlihat di Aula itu telah dipenuhi oleh Mahasiswa dan Mahasiswi dengan laki-laki disebelah kanan dan perempuan disebelah kiri.
          Acarapun dimulai dengan pembacaan Kitab Suci Al-qur’an, kemudian kata-kata sambutan. Dan akhirnya pelombaan pertama dimulai dengan cabang Lomba Membaca Puisi.
“Baiklah untuk pembuka, mari kita sambut peserta dengan nomor 01 , kepada peserta kami persilahkan dengan segala hormat” kata seorang panitia yang memandu acara dengan lantang dan keras.
          Seorang wanita dengan jilbab syar’inya berdiri dan berjalan menuju panggung disambut dengan riuhnya tepuk tangan dari penonton. Sementara Abi tengah berpikir keras, sepertinya ia pernah bertemu gadis itu, tapi ia bingung bertemu dimana.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu....!” ujar gadis itu dengan sedikit gugup
“Terima Kasih Guru, Oleh Pasta” ujar gadis itu membacakan judul puisinya
Guru....!
Mata Kami Buta, Telinga Kami Tuli
Mulut Kami Bisu, Tangan Dan Kaki Kami Lumpuh
Fisik Kami Lemah, Akal Kami Tumpul
Ego Kami  Sakit, Hati Kami Tampa Cahaya

Guru....!
Kau Datang Dengan Gagah Berani
Lemah Lembut, dan Baik Hati
Mengajari Kami Tentang Kebaikan
Mengajari Kami Tentang Kebenaran

Guru....!
Perlahan-Lahan Mata Kami Terbuka Melihat Dunia
Perlahan-Lahan Telinga Kami Mendengar Suara Dunia
Perlahan-Lahan Mulut Kami Berbicara Tentang Dunia
Perlahan-Lahan Tangan Kami Mengenggam Dunia
Perlahan-Lahan Kaki Kami Berjalan Diatas Dunia
Perlahan-Lahan Akal Kami Memahami Dunia
Perlahan-Lahan Ego Kami Berkeinginan Menjaga Dunia
Perlahan-Lahan Hati Kami Dihinggapi Cahaya Dunia

Guru....!
Kau Kenal Kenalkan Kami Dengan Islam
Kau Kenalkan Kami Dengan Allah
Kau Kenalkan Kami Dengan Malaikat-Malikatnya
Kau Kenalkan Kami Dengan Rasul-Rasul-Nya
Kau Kenalkan Kami Dengan  Al-Qur'an
Kau Kenalkan Kami Dengan  Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Guru....!
Terima Kasih Atas Ilmunya
Terima Kasih Waktunya
Terima Kasih Atas Perjuangannya
Terima Kasih Atas Kebaikan-Kebaikannya
Mendidik Dan Mengajari Kami Dengan Kasih Sayang
Semoga Allah Membalasnya Dengan Pahala dan Surga

Untuk Semua Guru Kami Dimanapun Mereka Berada,
Semoga Mereka Selalu Dalam Lindungan Allah...!”

          Semua orang terdiam, mendengar keindahan puisi gadis itu, lalu tiba-tiba seorang Dosen Wanita berdiri dan bertepuk tangan, tepuk tangan itu disambut oleh semua penonton sambil berdiri, membuat panggung dan aula itu bergetar. Hingga gadis itu turun dari atas panggung menuju teman-temannya, sambil berpelukan, tepukan tangan masih memenuhi seluruh aula itu.
“Puisinya bagus ya Akhi” ujar teman Abi padanya
“Iya sangat bagus....” tambah Abi memuji bacaan puisi gadis itu
          Acara berlanjut, kepeserta selanjutnya, namun Abi dan temannya harus balik kekampus karena ada jam kuliah. Saat keduanya telah keluar dari Aula, langkah Abi terhenti mendengar percakapan dua orang gadis.
“Subhanallah, puisinya kak Husna bagus ya” ujar gadis yang satunya
“Iya, bagus banget, aku sempat bergetar mendengarnya” ujar gadis yang satunya lagi. 
“Mudah-mudahan suatu hari nanti kak Husna jadi Sastrawan Muslimah Aceh yang hebat.... amin” ujar gadis yang pertama sambil mendo’akan temannya.
“Sastrawan Muslimah Cut Asmaul Husna hehe” tambah teman gadis itu menjuluki temannya yang membaca puisi tadi.
“Kok bengong, ayo Abi....!” ujar teman Abi menyadarkan lamunannya
“Eh.... iya, maaf....!” ujar Abi tersadar kemudian menuju tempat parkir sambil berguman dalam hati “Jadi namanya Cut Asmaul Husna, nama yang sangat bagus dan indah” ujar Abi sambil tersenyum penuh arti.
          Abi dan temannya kembali kekampus, mengikuti jam perkuliahan seperti biasa, dengan kemauan dan semangat yang tinggi. Demi tercapai asa sebagai manusia yang berakal, berilmu dan beriman.

Bersambung .....

Kitab dan Buku yang mendampingi Novel Ini :
1. Al-Qur'an Terjemahan dan Hadist
2. Buku Hijab
3. Bahaya Zina karya Ibnu Qayyim Al Zauziyah
4. Cinta Bukan Disalurkan Lewat Pacaran
5. Peraturan Hidup Dalam Islam
6. Fiqih Islam 
7. Sumber-Sumber Ilmu Pengetahuan Dalam Al-Qu'an dan Hadist
8. Kitab Al-Ilmi

 Halaman Bab :
1. Bagian 1 http://satriapena7.blogspot.co.id/2016/08/dataran-cinta-samudra-ilmu.html
2. Bagian 2 http://satriapena7.blogspot.co.id/2016/08/dataran-cinta-samudra-ilmu_5.html
3. bagian 3 http://satriapena7.blogspot.co.id/2016/08/dataran-cinta-samudra-ilmu-3.html
Salam Kenal .....!

Data Penulis :  

Nama : Parabi Satria
TTL : Paya Beke, 02-Agustus-1996 (Takengon, Aceh Tengah, Indonesia) 

Jenis Kelamin : Laki-Laki 

Pekerjaan : Mahasisswa Univesitas Samudra Langsa (Jurusan Teknik Sipil)

Nama Pena : K'satria Pena