Sunday, November 8, 2015

Mengintip Pusaka Sejarah Islam Di Masjid Raya Bogor

Nyala perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menegakkan agama Islam tak pernah padam. Hingga kini, sepak terjang Nabi SAW dan para sahabat saat berperang di jalan Allah terabadikan dalam ribuan riwayat.

Tak terkecuali, sejumlah pusaka yang menjadi bukti nyata perjuangan yang disimpan rapat-rapat dalam museum dengan penjagaan ketat. Pedang, busur, tongkat, dan segala peninggalan beliau, mayoritas diinventarisasi Museum Topkapi di Turki.

Untuk melihat langsung pusaka bukti sejarah Islam itu, siapa saja khususnya umat Islam, tak perlu jauh-jauh bertandang ke sana. Pasalnya, replika sejumlah barang bersejarah itu secara berkala dipamerkan di Indonesia.

Bulan ini, Kota Bogor menjadi lokasi pameran replika pedang milik Rasulullah dan para sahabat. Bertempat di Plaza Masjid Raya Bogor, pameran perdana itu menjadi salah satu rangkaian kegiatan Bogor Islamic Book Fair ke-10. Pameran digelar selama sepuluh hari, yakni sejak 9 sampai 18 Oktober 2015

"Hingga saat ini, kami sudah melakukan tur ke 84 kota, tujuannya untuk memberikan edukasi sejarah Islam kepada masyarakat," ujar Subhan (38 tahun), perwakilan penyelenggara "Pameran Pedang Nabi: Edukasi Sejarah Islam", awal pekan ini.

Pengunjung yang datang akan diminta membeli tiket masuk seharga Rp 15 ribu untuk kalangan umum dan Rp 10 ribu bagi pelajar. Di dalam ruang, pusaka yang mengandung unsur sejarah dan tambo Islam tersebut menunggu untuk disimak.

Kilat tajam puluhan pedang meremang dalam temaram cahaya ruang. Tata dekorasi itu diiringi latar suara denting pedang dan derap kuda. Seolah pengunjung sedang merasakan langsung suasana peperangan ketika Nabi Muhammad dan para sahabat berjuang.

Sekitar 22 pedang dipamerkan di sana. Pedang-pedang megah milik Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, dan sejumlah sahabat lain itu memiliki bentuk dan desain beragam. "Seluruh pedang ini adalah replika sempurna yang dibuat berdasarkan ukuran dan bentuk aslinya. Sebagian terbuat dari besi, ada pula yang dari emas," kata Subhan.

Setiap pedang memiliki kisahnya masing-masing. Sejarah singkat mengenai pedang dan sang pemilik dipaparkan secara padat di samping masing-masing pedang.

Subhan menyampaikan, informasi singkat itu sengaja dipasang agar pengunjung memahami latar belakang pusaka yang mereka simak. Dengan demikian, kaum Muslim khususnya dari kalangan generasi muda semakin mengenal dan mencintai sejarah perjuangan Islam.

Tiga pedang kesayangan Nabi, diusung pula dalam pameran tersebut, yaitu Al Qadib, Al Ma'thur, dan Zulfikar. Ketiganya memiliki keunikan dan sejarah masing-masing.

Pedang Al Qadib milik Rasulullah merupakan jenis pedang ringan yang menyerupai batang tipis. Sarung dari pedang sepanjang 100 cm itu terbuat dari kulit binatang.

Pada sisi perak pedang, ditatahkan lafaz syahadat "Asyhadu 'ala ilahailallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah". Sejarah mencatat, pedang itu tak sering digunakan Rasul untuk berperang.

Pedang lain milik Rasulullah, Al Ma'thur, merupakan warisan dari ayahanda beliau. Di dekat gagang pedang, tertulis kaligrafi Abdullah bin Abdul Muthalib (ayahanda Rasulullah).

Pedang sepanjang enam jengkal itu terbuat dari emas, berbentuk dua kepala ular, dan hampir seluruh permukaannya dihiasi batu delima dan batu pirus berwarna biru dan merah. "Pedang ini sudah dimiliki Rasulullah sejak masih muda, sebelum turunnya wahyu. Saat pernikahan putrinya, Fatimah Az Zahra, Rasulullah menghunuskan pedang ini sambil berjalan," ungkap Subhan.

Pedang ketiga, Zulfikar, telah diberikan Nabi kepada Ali bin Abi Thalib. Secara fisik, pedang lebar tersebut terbilang unik dengan warna emas pada keseluruhan permukaannya dan bagian ujung yang bercabang.

Pedang tersebut digunakan dalam Perang Badar untuk membela agama. Di atasnya, tertulis kalimat "Tidak ada pemuda seperti Ali dan tidak ada pedang seperti pedang Zulfikar".

Subhan menginformasikan, replika pedang Zulfikar sempat menjadi ikon dan pengunjung diperkenankan berpose dengan pedang itu. Akan tetapi, akibat terlalu sering disentuh, replika itu menjadi sedikit rusak di bagian sarungnya. "Sayang sekali harus disimpan kembali dalam kotak kaca, jadi sekarang hanya dua pedang milik Ali yang diperbolehkan digunakan untuk berfoto," kata dia.

Amir Abdullah Karim, salah satu pengunjung, menganggap kesempatan melihat langsung rupa pusaka tersebut sebagai sebuah kenikmatan tersendiri. Apalagi, pameran itu merupakan yang pertama ada di Kota Bogor.

Pria berusia 29 tahun asal NTT itu takjub terutama terhadap bobot pedang yang terbilang cukup berat, antara dua hingga enam kilogram. Amir terbayang perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat saat berperang, mengingat mereka harus memegang tali kekang kuda dengan satu tangan dan menghunus pedang dengan tangan lain. "Menggambarkan bahwasanya Allah memberikan kekuatan lebih. Dengan keyakinan, pedang yang berat mungkin saat perang terasa ringan," tuturnya.

Bagi Amir, seluruh benda bersejarah yang dipamerkan sungguh spesial dan memiliki makna masing-masing. Selain pedang Rasulullah SAW dan para sahabat, terdapat pula sandal, tongkat, dan busur milik Rasulullah SAW. "Peninggalan sejarah merupakan hal yang penting dan tidak bisa kita lupakan," kata dia.

Amir mengaku merasa senang bisa turut menghunus pedang para sahabat tersebut meski itu hanya sekadar replika.

Ada pula yang unik dari sejumlah replika pedang yang dipamerkan. Ada sebagian motif dan bahan dari senjata perang milik Rasulullah SAW dan para sahabat itu yang sesungguhnya tak lazim ada di Timur Tengah pada masa tersebut.

Busur panah Rasulullah, As Safra (si kuning), terbuat dari bambu kuning, yang tak tumbuh di Timur Tengah. Sedangkan, bagian dalam pedang Khalid bin Walid, sahabat Rasul, juga bermotif harimau dan naga yang sedang bertarung. Naga tak dikenal di Arab. "Menurut sejarah, sejumlah benda tersebut merupakan hadiah dari Cina," ungkap Subhan, pihak penyelenggara pameran, mengisahkan sejarah latar belakang benda-benda tersebut.

Subhan menyebutkan, terdapat sejumlah versi mengenai interaksi Islam dengan negeri Cina. Salah satu versi menyebutkan, interaksi dimulai ketika sejumlah sahabat berhijrah ke Habasyah (kini Ethiopia).

Setelah mendapat perlindungan dari seorang dermawan bernama Raja Najasi, para sahabat melanjutkan perjalanan dengan berlayar. Mereka berlabuh di daratan Cina pada masa Dinasti Sui (581-618 M).

Bahkan, Cina disebut mengenal Islam sejak awal mula dengan menyebutnya sebagai "Yisilan Jiao" atau agama yang murni. Cina juga menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran "Buddha Ma-hia-wu" (Nabi Muhammad SAW). "Meski demikian, terdapat berbagai versi hikayat tentang awal mula Islam di Cina," kata Subhan.

Sandhi Wiryawan, salah satu pengunjung, mengaku baru mengetahui keterkaitan tersebut dari pameran yang ia datangi. Ia baru mengetahui adanya interaksi antara peradaban Islam dengan negeri Cina pada masa lampau. "Terbayang oleh saya, solidnya perjuangan Nabi dan para sahabat yang rela berjihad demi agamanya," jelas pemuda berusia 23 tahun itu.


Sumber : Republika Online

No comments:

Post a Comment